BERITA1BOGOR.COM – Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik, menyoroti dua fenomena sosial yang dinilainya memprihatinkan.
“Pertama, fenomena banyak orang kaya secara materi, namun miskin secara spiritual. Kedua, ada pula mereka yang sudah miskin secara materi dan juga miskin secara spiritual,” ujar Prof. Irfan dalam acara Muhsinin Club Conference yang dihadiri sejumlah tokoh Muslim di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta. Ia menyebut kondisi kedua sebagai “miskin kuadrat”.
Menurut Prof. Irfan, persoalan kemiskinan spiritual belum banyak mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Padahal, tingginya tingkat kemiskinan spiritual dapat berdampak pada hilangnya keharmonisan hidup, menurunnya kepedulian sosial, serta melemahnya semangat berbagi. Ia mencontohkan meningkatnya rasa saling curiga antarwarga hingga berbagai persoalan sosial sebagai indikator adanya krisis spiritual di tengah masyarakat.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak hanya fokus pada kemiskinan materi. Berdasarkan data pemerintah, jumlah penduduk yang mengalami kemiskinan materi di Indonesia mencapai 23,85 juta jiwa atau sekitar 8,47% dari total populasi. “Namun hingga kini, belum ada catatan resmi mengenai berapa jumlah masyarakat yang mengalami kemiskinan spiritual,” tambahnya.
Pendiri Muhsinin Club, Dewa Eka Prayoga, menyambut baik gagasan pengukuran kemiskinan yang turut mempertimbangkan aspek spiritual. Sejak berdiri pada 2022, Muhsinin Club mengajak para anggotanya yang merupakan kalangan pengusaha dan profesional untuk meningkatkan kepedulian sosial.
Pada awalnya, setiap anggota didorong untuk bersedekah minimal Rp10 juta per bulan atau Rp120 juta per tahun. Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai program, seperti penyediaan makanan bergizi bagi santri, pembangunan masjid dan pesantren, distribusi daging kurban, pembangunan hunian di wilayah terdampak bencana, hingga pemberangkatan 158 santri penghafal Al-Qur’an untuk umrah. Hingga kini, total dana yang telah disalurkan mencapai Rp22 miliar.
“Kita membutuhkan lebih banyak orang kaya yang memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujar Dewa. Pada bulan Ramadan ini, Muhsinin Club menggelar Muhsinin Club Conference bekerja sama dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.
Dewa juga membagikan pengalaman pribadinya saat mengalami koma selama beberapa hari, yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari pengalaman tersebut lahir pesan yang kini terus ia gaungkan “Perbanyak wakaf sebelum wafat.”
Sementara itu, pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menekankan pentingnya kolaborasi dalam kebaikan. Ia menyampaikan bahwa kebaikan yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terstruktur. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk bersinergi melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan.
Salah satu program unggulan Kampoong Ecopreneur adalah One Family One Ecopreneur (satu keluarga, satu pebisnis berbasis lingkungan). Melalui program ini, masyarakat didorong untuk membudidayakan komoditas seperti ubi dan kopi yang ditargetkan untuk pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura.
“Tahun ini kami menargetkan program tersebut mulai berjalan secara optimal. Mohon doa agar upaya ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik secara materi maupun spiritual. Kami berharap dapat melahirkan lebih banyak pribadi yang sejahtera, berpengaruh, dan membawa kebaikan bagi sesama,” ujar Jamil. (*)





