google.com, pub-5346884408791712, DIRECT, f08c47fec0942fa0

KLH Ajak Masyarakat Pulihkan Ekosistem Hulu Sungai Ciliwung di Hari Sumpah Pemuda

BERITA1BOGOR – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 97, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam memulihkan ekosistem di kawasan hulu Sungai Ciliwung.

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan ajakan tersebut usai memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa 28 Oktober 2025.

Dalam kesempatan itu, Hanif juga menetapkan 53 Komunitas Sungai Ciliwung yang tersebar dari Cisarua, Kabupaten Bogor hingga Sawah Besar, Jakarta, sebagai bagian dari gerakan bersama dalam menjaga dan memulihkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

“Momentum Sumpah Pemuda ini kita jadikan refleksi atas upaya-upaya pemulihan lingkungan hidup. Pemuda harus menjadi motor penggerak perubahan menuju ekosistem yang lestari,” ujar Hanif Faisol.

Hanif menuturkan, dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.

Dalam konteks tersebut, kawasan hulu dan puncak memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekologi di wilayah hilir.

Menurut data KLH, DAS Ciliwung memiliki luas sekitar 42.600 hektare dan dihuni oleh lebih dari 3,5 juta jiwa. Dengan tekanan populasi sebesar itu, diperlukan kehati-hatian dan kesungguhan seluruh pihak dalam merancang kebijakan serta langkah strategis pemulihan lingkungan.

Sebagai bagian dari langkah konkret, KLH bersama masyarakat, PTPN, dan KSO melakukan penanaman 15.000 pohon secara serentak di kawasan hulu Sungai Ciliwung.

Penanaman ini diharapkan mampu memperkuat daya resap air, menstabilkan fungsi ekologi, serta mengurangi risiko bencana di wilayah hilir.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan embung penampung air seluas sekitar 700 meter persegi di sejumlah titik kulminasi aliran air menuju Sungai Ciliwung. Embung ini akan berfungsi menahan limpasan air hujan dan memperkuat cadangan air tanah.

“Kita semua harus bekerja keras. Hulu Ciliwung adalah kunci dari kestabilan ekosistem sungai yang melintasi Bogor, Depok, hingga Jakarta,” tegas Hanif.

Hanif juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah antara pemerintah daerah di Kabupaten dan Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Upaya di hulu, seperti di Megamendung dan Cisarua, dinilai sangat menentukan keberlanjutan ekosistem di wilayah hilir.

Selain memperkuat kerja sama, KLH juga akan mengoptimalkan pendekatan berbasis ekologi dalam kebijakan dan penegakan hukum lingkungan. Evaluasi terhadap sanksi pelanggaran lingkungan akan dilakukan agar dapat berfungsi lebih efektif sebagai pendorong perubahan perilaku.

“Pelaku usaha di kawasan puncak wajib menginvestasikan keberlanjutan dengan mengembalikan fungsi tata lingkungan, terutama aspek hidro-orologis,” tambah Hanif.

Dengan ditetapkannya 53 Komunitas Ciliwung, pemerintah berharap setiap segmen dan lekukan Sungai Ciliwung memiliki penjaga aktif yang berperan dalam pelestarian sungai.

“Kami akan mendukung penuh langkah komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk mengembalikan fungsi Sungai Ciliwung. Hulu DAS ini sangat penting dan menjadi perhatian kita semua,” pungkas Hanif.

(Erk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *