google.com, pub-5346884408791712, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kampoong Ecopreneur dan Petani Leuwisadeng Siap Tembus Ekspor Ubi Ungu ke Malaysia dan Singapura

BERITA1BOGOR.COM – Sejumlah petani di Desa Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, memulai langkah baru menuju pasar internasional melalui program pembinaan budidaya ubi ungu berorientasi ekspor yang digagas Kampoong Ecopreneur. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kampoong Ecopreneur, DT Peduli, dan IPB University untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Ketua Kampoong Ecopreneur, Sofie Beatrix, mengatakan program ini menargetkan pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura. Tahap awal dimulai dengan pembukaan lahan dan penanaman ubi ungu bersama para petani binaan.

“Minggu ini kami mulai membuka lahan dan melibatkan para petani untuk menanam ubi ungu. Hasil panennya nanti ditujukan untuk pasar ekspor, khususnya Malaysia dan Singapura,” ujar Sofie di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Kamis, 30 Juli 2026.

Program pemberdayaan ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi petani Indonesia yang umumnya masih memiliki tingkat pendapatan rendah. Melalui budidaya komoditas bernilai tinggi dengan akses pasar ekspor, diharapkan petani memperoleh penghasilan yang lebih baik sekaligus meningkatkan kapasitas usahanya.

Pada tahap awal, program dilaksanakan di lahan budidaya seluas 1,5 hektare dan akan berlangsung sepanjang periode 2026–2027. Sofie berharap cakupan program dapat terus diperluas sehingga semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya.

“Harapan kami, para petani tidak hanya meningkat secara ekonomi, tetapi juga bertumbuh secara spiritual. Mereka bisa naik level menjadi petani yang mandiri, sejahtera, serta memiliki semangat untuk terus berkembang,” katanya.

Untuk memastikan hasil panen memenuhi standar pasar internasional, Kampoong Ecopreneur menggandeng IPB University sebagai mitra pendamping teknis. Pendampingan dilakukan mulai dari pemilihan benih, teknik budidaya, hingga pengendalian mutu agar produk memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pembeli luar negeri.

“Karena pembelinya berasal dari luar negeri, ada standar kualitas yang harus dipenuhi. Itulah sebabnya petani kami dampingi sejak awal agar hasil panennya sesuai dengan kebutuhan pasar ekspor,” jelas Sofie.

Berbeda dengan program pemberdayaan petani pada umumnya, inisiatif Kampoong Ecopreneur dirancang secara terintegrasi sejak awal. Program ini mencakup empat aspek utama, yaitu:

  • Kepastian pasar melalui kontrak pembelian hasil panen dengan buyer atau eksportir sebelum masa tanam
  • Dukungan pendanaan dari DT Peduli sebagai modal usaha dan penyediaan aset produksi
  • Pendampingan teknis sesuai standar mutu ekspor bersama IPB University
  • Penguatan kelembagaan melalui pembentukan kelompok usaha tani

Bagi IPB University, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari pengembangan Living Lab, sehingga mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang dipelajari secara langsung di lapangan melalui pendampingan kepada petani.

Sebagai langkah awal pelaksanaan program, dilakukan kegiatan asesmen terhadap lahan dan petani. Tim melakukan pemetaan terhadap lahan seluas 1,5 hektare serta profil sosial-ekonomi sepuluh petani peserta sebagai dasar penyusunan baseline dan indikator keberhasilan program.

Tahapan selanjutnya meliputi pelatihan budidaya, pendampingan pascapanen, hingga persiapan pengiriman hasil panen perdana sesuai jadwal yang telah disepakati bersama buyer.

Salah seorang petani binaan, Saepuloh, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya membuka peluang peningkatan pendapatan, tetapi juga memberikan pengetahuan baru dalam mengelola lahan pertanian.

“Alhamdulillah kami mendapat bimbingan, punya harapan untuk memperoleh penghasilan tambahan, dan mendapatkan ilmu tentang cara mengolah lahan dengan lebih baik,” ujar Saepuloh.

Melalui kolaborasi ini, Kampoong Ecopreneur berharap dapat membangun model pemberdayaan petani yang berkelanjutan, menghubungkan petani dengan pasar global, serta menjadikan pertanian sebagai sektor yang semakin produktif, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *