google.com, pub-5346884408791712, DIRECT, f08c47fec0942fa0

FMP 2026 Berakhir:  Nasionalisme Tumbuh, Ekonomi Kota Bogor Bergerak

BERITA1BOGOR.COM – Rangkaian Festival Merah Putih (FMP) 2026 resmi berakhir setelah seluruh agenda, termasuk upacara dan penurunan bendera, rampung digelar. Memasuki tahun pelaksanaan ke-11, festival tahunan di Kota Bogor tersebut mencatat peningkatan signifikan dari sisi partisipasi masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan kegiatan.

Perwakilan FMP, Harlan Bengardi, mengatakan peningkatan partisipasi terlihat pada sejumlah agenda utama. Salah satunya Festival Kopi Legendaris yang tahun ini mencatat sekitar 20.000 pengunjung, naik dari 15.000 pengunjung pada tahun sebelumnya. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan tersebut juga menghasilkan perputaran transaksi sekitar Rp250 juta.

Peningkatan serupa terjadi pada Kirab Merah Putih. Jumlah peserta tercatat mencapai sekitar 3.400 orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 2.000 peserta.

“Kami melihat banyak peningkatan di tahun ke-11 ini. Sebagai contoh, Festival Kopi Legendaris yang tahun lalu menarik 15.000 pengunjung, tahun ini meningkat menjadi 20.000 pengunjung dengan total perputaran transaksi mencapai Rp250 juta selama tiga hari penyelenggaraan. Begitu pula dengan Kirab Merah Putih, jumlah peserta melonjak dari sekitar 2.000 orang pada tahun lalu menjadi 3.400 orang tahun ini,” ujar Harlan di sela kegiatan penaikan bendera Merah Putih di Tugu Kujang Bogor, Senin (31/8/2026).

Menurut Harlan, keberhasilan FMP 2026 tidak hanya diukur dari besarnya jumlah peserta maupun transaksi ekonomi. Salah satu capaian penting tahun ini adalah meningkatnya peran generasi muda dalam pengelolaan festival.

Sekitar 60 persen operasional dan manajemen seluruh rangkaian FMP 2026 dikelola secara mandiri oleh lebih dari 100 relawan dari kalangan Generasi Z. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi sekaligus memastikan keberlanjutan festival pada tahun-tahun mendatang.

“Faktor keberhasilan utama suatu kegiatan atau organisasi adalah regenerasi. Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak Gen Z memiliki rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang tinggi,” kata Harlan.

Ia berharap FMP dapat terus memberikan dampak positif bagi Kota Bogor dan wilayah sekitarnya, tidak hanya melalui kegiatan kebangsaan, tetapi juga dengan membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat, belajar mengelola kegiatan, serta melihat potensi Indonesia secara lebih optimistis.

Selain itu, dampak kegiatan FMP terhadap aktivitas ekonomi lokal turut mendapat perhatian dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bogor.

Ketua KADIN Kota Bogor, Arwinsyah Putra, menilai konsistensi festival yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade menjadi modal sosial sekaligus ekonomi yang penting bagi daerah.

Menurut Arwinsyah, kekuatan FMP terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai sektor, mulai dari budaya, pariwisata, UMKM, kuliner, hingga jasa transportasi.

Kehadiran agenda seperti Festival Kopi Legendaris, kata dia, memberikan ruang promosi sekaligus transaksi bagi pelaku usaha lokal. Dampaknya kemudian ikut dirasakan sektor lain, termasuk perhotelan, restoran, dan jasa perjalanan.

“Ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan wujud nyata gotong royong seluruh elemen warga dan dunia usaha. Pergerakan ekonominya sangat terasa. Kadin mendorong agar model kegiatan penggerak ekonomi dan pariwisata seperti ini dapat terus direplikasi dan dijaga secara konsisten,” ungkap Arwinsyah.

Dampak lain juga dirasakan sektor transportasi. Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bogor, Sunaryana, mencatat peningkatan mobilitas wisatawan yang menggunakan jasa transportasi travel menuju Kota Bogor selama rangkaian FMP berlangsung.

Menurut Yana, kegiatan berskala kota seperti FMP memiliki potensi besar untuk menghubungkan aktivitas pariwisata dengan sistem transportasi serta titik-titik destinasi wisata.

Bergabungnya Organda sebagai Anggota Luar Biasa (ALB) KADIN Kota Bogor diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor, terutama dalam mengembangkan konektivitas menuju berbagai destinasi wisata di Kota Bogor.

“Kegiatan FMP ini sangat efektif dalam membangkitkan rasa nasionalisme lintas generasi sekaligus mendongkrak sektor pariwisata dan transportasi. Ke depan, kami siap berdiskusi lebih mendalam bersama Kadin dan panitia FMP untuk mengoptimalkan potensi pemetaan titik wisata dan integrasi transportasi di Kota Bogor,” kata pria yang akrab disapa Yana tersebut.

Dengan meningkatnya jumlah peserta, pengunjung, transaksi ekonomi, serta keterlibatan lebih dari 100 relawan muda, FMP 2026 menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikembangkan menjadi ekosistem kolaborasi yang mempertemukan nasionalisme, ekonomi kreatif, pariwisata, dunia usaha, dan regenerasi kepemimpinan generasi muda.

Bagi Kota Bogor, keberlanjutan FMP selama 11 tahun sekaligus menjadi bukti bahwa kegiatan berbasis gotong royong memiliki potensi untuk terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

(Erk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *