google.com, pub-5346884408791712, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Satpol PP Kota Bogor dan Yayasan Rumah Kedua Gelar Workshop My Buddy, Rumah Damai, Bullying Usai

BERITA1BOGOR.COM – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor bekerja sama dengan Yayasan Rumah Kedua menggelar Workshop My Buddy bertajuk “Rumah Damai, Bullying Usai” di Botani Square, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pelajar di lingkungan sekolah, khususnya melalui pencegahan dan penanggulangan perundungan (bullying).

Polisi Pamong Praja Ahli Madya Satpol PP Kota Bogor, Apit Budiman, mengatakan persoalan perundungan perlu mendapat perhatian serius karena dapat menjadi salah satu pemicu munculnya kebencian, permusuhan, hingga kekerasan di tengah masyarakat.

“Di Indonesia, kebencian dan permusuhan bermula dari apa? Salah satunya dari perundungan. Melalui kegiatan ini, kami berharap anak-anak kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang saling menebar cinta dan kasih sayang,” ujar Apit.

Menurutnya, ketika masyarakat mampu menumbuhkan cinta dan kasih sayang di tengah berbagai perbedaan, lingkungan perkotaan akan menjadi lebih aman dan nyaman. Dengan demikian, keinginan untuk menyakiti orang lain juga dapat diminimalkan.

Apit menegaskan, perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah. Pencegahan harus dilakukan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, tempat kerja, lingkungan bermain, hingga tempat rekreasi.

“Perundungan harus kita cegah dan tanggulangi. Bukan hanya diberantas. Mencegah itu lebih baik daripada mengobati,” katanya.

Ia menjelaskan, dampak perundungan dapat sangat serius, baik terhadap kondisi fisik maupun emosional korban. Dalam sejumlah kasus, perundungan bahkan dapat mendorong seseorang untuk menyakiti diri sendiri, melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain, hingga kehilangan nyawa.

Karena itu, menurut Apit, upaya pencegahan perlu dibangun melalui penanaman nilai cinta, kasih sayang, serta penghargaan terhadap perbedaan.

“Kita semua berbeda. Tetapi kalau sifat yang kita tumbuhkan adalah cinta dan kasih sayang di tengah perbedaan itu, maka kita memiliki jalan menuju keberhasilan dan kebahagiaan, baik dari sisi materi maupun emosional,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kepintaran atau kesuksesan secara materi. Lingkungan yang bebas dari kekerasan dan perundungan juga menjadi bagian penting dalam menciptakan kebahagiaan dan mendukung seseorang mencapai kesuksesan.

“Usaha keras tanpa kebahagiaan, tanpa adanya hambatan berupa kekerasan dan perundungan dalam menjalankan aktivitas, saya yakin akan sulit mencapai kebahagiaan, baik kebahagiaan materi maupun emosional,” tuturnya.

Satpol PP Kota Bogor, lanjut Apit, terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencegah semakin masifnya perundungan di Kota Bogor.

Ia menyinggung sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan pelajar di Kota Bogor. Menurutnya, fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, termasuk pengalaman perundungan yang dialami sebelumnya.

“Banyak faktor penyebabnya. Misalnya keluarga yang tidak harmonis atau orang tua yang otoriter. Ketika anak tidak mendapatkan kebahagiaan di rumah, mereka bisa membawa rasa sakit, baik fisik maupun emosional, ke luar rumah,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, kata Apit, berpotensi membuat anak melampiaskan pengalaman yang dialaminya kepada orang lain melalui tindakan perundungan. Siklus tersebut kemudian dapat berlanjut ketika korban maupun pelaku membawa pengalaman kekerasan tersebut ke lingkungan lainnya.

“Ini menjadi siklus yang harus kita putus. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini,” katanya.

Apit menyebut, pihaknya menemukan sekitar 40 kasus perundungan di tingkat sekolah dasar (SD). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman perundungan sudah banyak dialami anak sejak usia sekolah dasar, termasuk di lingkungan sekolah, tempat bermain, maupun lingkungan sekitar tempat tinggal.

Sebagai informasi, Workshop My Buddy kali ini diikuti oleh pelajar dari SMA Negeri 1 Kota Bogor, MAN 1 Kota Bogor, MAN 2 Kota Bogor, dan SMK Wikrama. Masing-masing sekolah mengirimkan 20 peserta sehingga total terdapat 80 pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut.

Para peserta mendapatkan materi dari pemateri yang merupakan kolaborasi antara Satpol PP Kota Bogor dan Yayasan Rumah Kedua.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan metode BPPG (Budi Pekerti Board Game). Metode ini menggunakan kartu psikologi yang berisi kata-kata tertentu untuk kemudian dijelaskan oleh peserta.

Peserta diminta menyampaikan pengalaman mereka berkaitan dengan kata-kata yang terdapat dalam kartu, termasuk apakah pernah mengalami atau melakukan hal tersebut.

“Melalui metode ini, secara tidak langsung kita dapat mengetahui apakah mereka pernah mengalami perundungan. Mereka mungkin tidak secara langsung mengatakan pernah menjadi korban, tetapi dari kata-kata yang muncul dalam permainan, pengalaman tersebut dapat teridentifikasi,” jelas Apit.

Sebagai tindak lanjut, Satpol PP Kota Bogor tengah membangun tim kolaborasi antar dinas untuk memperluas program pencegahan perundungan.

Kolaborasi tersebut melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), serta Satpol PP Kota Bogor.

Apit mengatakan, program selanjutnya akan menyasar sekolah-sekolah dasar di Kota Bogor.

“Mulai September ini, insyaallah kalau tidak ada halangan, kami akan mulai bergerak ke sekolah-sekolah dasar untuk mengampanyekan anti-bullying di tingkat SD,” ujarnya.

Langkah tersebut dinilai penting karena berdasarkan temuan dalam kegiatan sebelumnya, sekitar 80 persen peserta tingkat SMP menyatakan pertama kali mengalami perundungan ketika duduk di bangku SD.

“Makanya kami datang ke SD-SD. Kalau 80 persen mengatakan pertama kali mengalami perundungan saat SD, artinya pencegahan harus dilakukan sejak tingkat dasar,” kata Apit.

Selain kampanye anti-perundungan, Satpol PP Kota Bogor juga mengusulkan kepada Dinas Pendidikan agar tersedia guru bimbingan dan konseling (BK) di tingkat SD.

Menurut Apit, keberadaan tenaga konseling di jenjang sekolah dasar penting untuk mendeteksi dan menangani persoalan psikologis anak sejak dini.

“Saat ini guru BK umumnya tersedia di tingkat SMP dan SMA, sementara di SD belum ada. Padahal, berdasarkan temuan kami, banyak anak pertama kali mengalami perundungan ketika SD. Karena itu, kami mengusulkan adanya guru konseling di tingkat SD yang memahami psikologi anak sehingga persoalan dapat diantisipasi sejak awal,” pungkasnya.

(Erk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *