BERITA1BOGOR.COM – Pemerintah Kota Bogor mencatat sebanyak 512 balita berhasil keluar dari kondisi stunting berdasarkan data rekonsiliasi periode Januari hingga Juni 2026. Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemkot Bogor untuk mengejar target Zero New Stunting atau tidak munculnya kasus stunting baru menjelang Bulan Penimbangan Balita (BPB) pada Agustus mendatang.
Wakil Wali Kota Bogor sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPPS) Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk yayasan, komunitas, dunia usaha, dan para donatur.
“Siang ini saya berada di Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri. Setelah kami tracking, yayasan ini sudah lama berkiprah memberikan bantuan kepada balita dan anak-anak di sekitar kelurahan secara konsisten setiap bulan. Ini menjadi ikhtiar dan syiar yang kuat bahwa penanganan stunting di Kota Bogor dilakukan secara serius,” ujar Jenal saat menghadiri kegiatan konvergensi stunting bertema Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting di Ruang Yerusalem GSJA Betlehem, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (30/6/2026).
Menurut Jenal, penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Keterlibatan berbagai pihak menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penurunan angka stunting di Kota Bogor.
Sebagai bentuk apresiasi atas dukungan tersebut, Pemkot Bogor memberikan Sertifikat Penghargaan kepada Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri (HBLM) yang dinilai konsisten mendukung program penanganan stunting sepanjang 2025 hingga 2026.
Selain memperkuat kolaborasi, Pemkot Bogor juga mengoptimalkan penggunaan aplikasi Besti (Bebas Stunting) untuk meningkatkan transparansi penyaluran bantuan. Melalui aplikasi tersebut, para donatur dapat memantau perkembangan anak asuh secara berkala, mulai dari berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, hingga status gizi.
Dengan sistem tersebut, para donatur dapat memastikan bantuan yang diberikan benar-benar diterima dan berdampak terhadap pertumbuhan anak yang didampingi.
Sementara itu, Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari, mengatakan kolaborasi antara pemerintah, kader kesehatan, yayasan, dan masyarakat telah membawa hasil nyata di wilayahnya.
Menurut Kartini, jumlah balita stunting maupun rawan stunting di Kelurahan Babakan Pasar terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Dari semula tercatat sebanyak 49 anak, jumlah tersebut turun menjadi 13 anak, dan berdasarkan hasil penimbangan terakhir pada Februari 2026 kini tersisa 9 anak.
“Kami sangat terbantu oleh Yayasan HBLM, komunitas, serta tokoh masyarakat. Berkat kerja keras kader dan seluruh tim, angka stunting di Kelurahan Babakan Pasar mengalami penurunan drastis,” kata Kartini.
Ke depan, Pemkot Bogor akan memfokuskan intervensi pada upaya pencegahan melalui penguatan edukasi pola asuh, pemenuhan gizi, serta kolaborasi lintas sektor agar target Zero New Stunting dapat tercapai sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Emas 2045.
(Erk)





