BERITA1BOGOR.COM – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Bogor berlangsung semarak lewat pertunjukan seni budaya yang melibatkan 200 penari dari berbagai daerah.
Mengusung kampanye “Tunjukkan Indonesiamu”, Yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI) menjadikan Ruang Riung di Alun-alun Kota Bogor sebagai panggung pertunjukan sekaligus ruang inklusif bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri melalui seni.
Kota Bogor menjadi kota penutup rangkaian roadshow kampanye “Tunjukkan Indonesiamu” yang telah digelar BBI di sejumlah wilayah. Pertunjukan yang berlangsung di ruang publik tersebut menampilkan keberagaman tari Nusantara, mulai dari Jawa Barat, Betawi, Aceh, Sulawesi, hingga Kalimantan, serta pertunjukan angklung.
Yang membuat pertunjukan ini semakin istimewa, ratusan penari yang tampil tidak hanya berasal dari komunitas umum. BBI juga melibatkan siswa-siswi difabel dari sekolah gratis yang dikelolanya di Bogor. Kehadiran mereka menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan ruang yang terbuka bagi siapa saja, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Founder Yayasan Belantara Budaya Indonesia, Diah Kusuma Wardhani Wijayanti, mengatakan pemilihan ruang publik sebagai lokasi pertunjukan menjadi bagian penting dalam membangun keberanian dan rasa percaya diri anak-anak, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat secara langsung.
“Hari ini kita spesial banget membawa 200 penari. Untuk Tari Jawa Barat hanya satu ragam karena masyarakat setempat sudah sering menyaksikannya, dipadukan dengan pertunjukan angklung. Selebihnya kami tampilkan keberagaman tarian dari Sulawesi, Kalimantan, Aceh, hingga Betawi,” ujar Diah kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Diah, keberadaan ruang pertunjukan publik tidak hanya berdampak pada perkembangan para penampil. Ekosistem seni dan budaya yang tumbuh dari panggung pertunjukan juga dapat memberikan efek berantai bagi pelaku ekonomi kreatif, mulai dari pengrajin topeng, pembuat kain tenun, kebaya, hingga perajin aksesori.
“Menari saja tanpa panggung itu seperti nothing. Anak-anak butuh ruang untuk tampil. Dampaknya itu dari hulu ke hilir, ada domino effect. Ketika ada ruang pertunjukan, pengrajin topeng, pembuat kain tenun, kebaya, hingga aksesori ikut terbantu karena dibeli,” tegasnya.
Bagi BBI, panggung pertunjukan bukan sekadar tempat untuk menampilkan kemampuan menari. Ruang tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk membangun kepercayaan diri, mengasah kemampuan, sekaligus mendapatkan apresiasi dari masyarakat.
Memasuki usia ke-13 sejak berdiri pada 10 Juni lalu, BBI telah mengasuh lebih dari 9.000 siswa dan mengelola 22 sekolah gratis di berbagai wilayah. Di Bogor, yayasan tersebut juga menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak difabel.
Sejumlah prestasi turut ditorehkan para siswa BBI. Mereka pernah terlibat dalam pertunjukan kolosal yang melibatkan hingga 3.000 penari. Siswa difabel BBI juga belum lama ini mendapat kesempatan tampil di Osaka Expo serta meraih Juara 1 dalam ajang kebudayaan internasional di Korea Selatan.
Melalui kampanye “Tunjukkan Indonesiamu”, BBI ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga tradisi, tetapi juga memastikan generasi muda memiliki ruang untuk tampil, berkarya, dan memperkenalkan keberagaman Indonesia kepada masyarakat luas.
Sementara, Yuno Abeta Lahay, Penggagas Ruang Riung, mengatakan bahwa Belantara Budaya Indonesia (BBI) ini adalah ‘gong’ yang disimpan untuk pertunjukan istimewa di Ruang Riung.
Sebab, kata Yuno, BBI merupakan sanggar ternama yang memiliki banyak anggota sekaligus punya kepedulian terhadap anak-anak difabel. Karena itu, pihaknya menyimpannya terlebih dahulu dan memilih momentum kemerdekaan untuk menampilkan mereka.
“Tanggal 22 Agustus menjadi pilihan yang sudah kami siapkan, karena kami memahami bahwa melatih dan mendampingi anak-anak difabel tentu tidak mudah dan membutuhkan waktu,” kata Yuno.
Yuno menambahkan, BBI juga memiliki pengalaman panjang dalam berbagai pertunjukan. Bagi Ruang Riung, hal ini sangat membantu karena mereka sudah terbiasa mengatur alur pertunjukan, termasuk menentukan siapa yang tampil terlebih dahulu dan bagaimana mengelola situasi di atas panggung.
Apalagi, sambung Yuno, kondisi anak-anak difabel bisa sangat dinamis dan membutuhkan perhatian khusus. Mereka mampu mengatur flow pertunjukan dengan baik.
“Karena itu, malam ini memiliki ciri khusus. Kami dari Ruang Riung bahkan mengalokasikan anggaran lebih untuk memasang barikade. Bukan karena ingin membedakan anak-anak difabel dengan yang lain, tetapi semata-mata untuk menjaga keselamatan mereka. Kami khawatir jika mereka berada di tengah kerumunan, ada kemungkinan mereka mengalami perundungan atau pelecehan. Kalau kemudian mereka marah atau berlari ke suatu tempat, situasinya tentu sulit dikontrol,” jelas Yuno.
Barikade yang dilakukan menjadi perhatian pihak Ruang Riung sebagai bentuk perlindungan dan memastikan mereka tetap merasa aman selama acara berlangsung.
“Jadi ini menjadi malam yang sangat spesial bagi kami. Mudah-mudahan ke depannya Ruang Riung dapat terus berkembang dan menghadirkan ruang yang semakin baik, aman, inklusif, dan nyaman bagi semua,” pungkasnya.
(Erk)





