BERITA1BOGOR.COM – Kelurahan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, terus mendorong pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal melalui promosi produk unggulan warga. Salah satunya kue semprong produksi Femi Febrianti yang telah dirintis sejak 2015 dan berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Lurah Tajur, Ita Juita, mengatakan promosi produk lokal menjadi salah satu upaya untuk mendukung keberlangsungan usaha warga sekaligus memperkenalkan potensi UMKM kepada masyarakat dan calon pembeli.
“Kami sangat bangga dengan produk UMKM lokal, seperti semprong buatan Bu Femi yang rasanya renyah dan luar biasa. Kami ingin membangkitkan semangat para pelaku UMKM agar produk Tajur bisa dikenal lebih luas,” ujar Ita, Selasa (27/10/2026).
Kue semprong buatan Femi memiliki cita rasa gurih, tekstur renyah, serta harga yang terjangkau. Produk rumahan ini dipasarkan dengan harga Rp15.000 per bungkus dan Rp120.000 per kilogram untuk pembelian dalam jumlah besar.
Femi menceritakan, usaha tersebut bermula dari pemasaran sederhana melalui keluarga, saudara, dan tetangga. Seiring waktu, produknya mulai dikenal konsumen dan pernah dipasarkan melalui sistem titip jual di swalayan Ngesti Pajajaran.
Saat ini, penjualan lebih banyak dilakukan melalui sistem pesanan atau pre-order. Permintaan biasanya meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri, ketika konsumen mulai mencari kue untuk kebutuhan keluarga maupun sajian Lebaran.
“Awalnya saya memasarkan dari mulut ke mulut, melalui keluarga, saudara, dan tetangga. Sekarang kebanyakan berdasarkan pesanan, terutama kalau menjelang Lebaran, permintaannya lebih banyak,” ungkap Femi.
Meski memiliki pelanggan yang terus memesan produknya, Femi masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi. Seluruh proses pembuatan dikerjakan sendiri sehingga jumlah produksi harian bergantung pada waktu dan tenaga yang tersedia.
Ia menjelaskan, pengolahan tiga kilogram bahan mentah membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Dari setiap kilogram bahan, Femi dapat menghasilkan sekitar 16 bungkus kue semprong.
“Proses pembuatannya cukup lama dan panas, jadi harus sabar. Kalau dikerjakan sendiri, paling banyak sekitar tiga kilogram bahan mentah dalam sehari. Suami pernah membantu, tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, sekarang saya kerjakan sendiri,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Femi tetap mempertahankan resep khas yang menjadi identitas produknya. Rasa yang gurih, tekstur renyah, dan harga yang terjangkau menjadi keunggulan untuk menjaga minat pelanggan.
Melalui promosi yang dilakukan pihak kelurahan, produk kue semprong ini diharapkan semakin dikenal dan memiliki peluang pemasaran yang lebih luas, termasuk menjangkau jaringan toko ritel.
Masyarakat yang berminat membeli kue semprong produksi Femi Febrianti dapat menghubungi pihak Kelurahan Tajur untuk memperoleh informasi pemesanan.





