BERITA1BOGOR.COM – Hari ke 2, Tim SAR gabungan masih terus mengupayakan pencarian Bayu Zulkarnain, aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang diduga terjatuh dari jembatan penghubung Cipaku-Pamoyanan ke aliran Sungai Cisadane.
Pada Jumat (14/8/2026), pencarian dilakukan sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.30 WIB dengan menerapkan sejumlah metode, termasuk penyelaman, penyisiran aliran sungai, serta penggunaan perahu bermotor untuk mengaduk material di dasar sungai.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, mengatakan pencarian dihentikan sementara setelah seluruh upaya dilakukan hingga sore hari. Namun, operasi pencarian akan kembali dievaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.
“Tim SAR gabungan memulai pencarian pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 17.30 WIB. Jadi pencarian dihentikan sementara,” kata Dimas kepada wartawan, Jumat (14/8/2026).
Menurut Dimas, penyelaman menjadi salah satu metode utama yang dilakukan tim gabungan. Personel Basarnas, Damkar, dan BPBD secara bergantian menyelam serta menyisir sejumlah titik yang dinilai memiliki kedalaman dan celukan di dasar sungai.
Namun, kondisi dasar Sungai Cisadane menjadi salah satu kendala dalam proses pencarian. Tim menemukan banyak sedimentasi dan sampah yang bercampur dengan bilah-bilah bambu.
“Beberapa metode sudah dilakukan. Metode utama adalah penyelaman. Beberapa personel Basarnas, Damkar, BPBD secara bergantian melakukan penyelaman dan penyisiran di lokasi yang diduga cukup dalam dan memiliki sedongan (celukan),” jelasnya.
Selain penyelaman, tim menggunakan perahu bermotor untuk melakukan teknik pengadukan atau “blender” pada bagian bawah sungai. Teknik tersebut dilakukan untuk mengangkat atau menggeser material yang berada di dasar sungai agar dapat diperiksa lebih lanjut.
Penyisiran juga dilakukan dengan menyusuri aliran sungai secara langsung. Personel bergerak dengan rentang sekitar 10 meter dan melakukan pencarian dari titik awal kejadian hingga sekitar 300 sampai 400 meter dari lokasi.
Meski berbagai metode telah diterapkan, hingga pencarian dihentikan sementara, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan Bayu Zulkarnain.
“Memang ikhtiarnya sampai dengan saat ini kita masih belum menemukan tanda-tanda saudara Bayu Zulkarnain,” ujar Dimas.
Dimas memastikan upaya pencarian akan tetap dilanjutkan. Tim SAR gabungan akan melakukan evaluasi untuk menentukan kemungkinan perluasan area pencarian maupun penerapan metode lain.
“Insyaallah sesuai dengan yang disampaikan Wakil Wali Kota, kalaupun ada prosedur lain yang akan ditempuh, tentunya kami dari tim SAR gabungan tetap akan melakukan pencarian terhadap saudara Bayu,” tuturnya.
Ia mengatakan, tim juga dapat melakukan briefing kembali untuk mempersiapkan perluasan area pencarian, termasuk apabila diperlukan pencarian pada malam hari atau dengan teknik berbeda.
“Kalau perlu malam ini kita briefing lagi untuk melakukan perluasan lagi, ataupun dengan teknik lain nanti kita akan tentukan lagi,” katanya.
Dimas menjelaskan, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), operasi pencarian korban SAR umumnya dilakukan selama tiga hingga empat hari. Meski demikian, batas waktu tersebut tidak berarti upaya pencarian Bayu otomatis dihentikan.
“Kalau SOP pencarian itu tiga sampai empat hari, tapi tentunya ikhtiarnya tidak berhenti. Bagaimana pun ikhtiar tim operasi ini menjadi satu semangat untuk keluarga saudara Bayu,” ungkapnya.
Kondisi Sungai Cisadane di sekitar lokasi juga menjadi tantangan tersendiri. Kedalaman sungai bervariasi, mulai dari sekitar empat hingga lima meter dan pada sejumlah titik dapat mencapai enam meter.
Selain kedalaman, banyaknya sedimentasi, sampah, serta material bambu di dasar sungai membuat ruang gerak penyelam menjadi terbatas dan proses pencarian semakin sulit.
“Kedalaman sungai variatif, kalau paling dalam bisa 4-5 meter, bahkan ada yang 6 meter. Cuma tadi bawahnya itu banyak sedimentasi sampah dan ditambah lagi area di sini banyak pohon bambu jadi banyak bilah-bilah bambu,” tandas Dimas.





